Di dalam kedokteran fungsional pencernaan merupakan otak kedua dalam tubuh kita, banyak penyakit yang disebabkan karena pencernaan salah satunya Irritable bowel syndrome. Di Amerika lebih dari 50 juta orang atau satu dari enam orang pernah mengalami IBS. Di Indonesia sendiri Irritable Bowel Sydrome bukan salah satu diagnosa yang sering kita dengar, padahal mungkin kita pernah mengalaminya dan mungkin dari gejalanya kita sering datang ke dokter namun dokter tidak tahu bagaimana mengobatinya dan apa penyebabnya.
Irritable Bowel syndrome (IBS) merupakan penyakit yang terjadi di dalam usus besar dengan kumpulan gejala seperti perut kembung, perut terasa penuh, susah buang air besar (konstipasi), diare atau perut kram. Dengan pemeriksaan penunjang colonoscopy juga tidak ditemukan apa-apa, tampak normal, tidak ada masalah di organ, tidak ada tumor dan tidak tampak hal yang berarti. Padahal masalah utamanya adalah disfungsi dari ekosistem dalam pencernaan.
Apa penyebab IBS?
Dalam kedokteran fungsional, suatu penyakit bisa disebabkan oleh berbagai macam penyebab. Jadi apabila ada 4 orang yang sama-sama mengalami gejala IBS, penyebab tiap orang bisa berbeda-beda. IBS dapat disebabkan oleh:
1. Allergen makanan atau sensitive terhadap makanan tertentu
Yang paling utama penyebab IBS adalah sensitifitas atau alegi terhadap makanan. Ini bukan seperti alergi terhadap kacang atau seafood, tapi ini sensitifitas atau alergi yang ringan yang mungkin dari gejalanya kita menyadarinya namun jika didiamkan sebenarnya bisa menimbulkan penyakit kedepannya. Makanan yang paling sering menimbulkan alergi yaitu Gluten (Gluten adalaha protein yang terdapat di gandum, barley, rye dan oats). Makanan lain yang paling banyak menyebabkan alergi selanjutnya yaitu, product diary (seperti: susu, keju, ayam boiler dan lain-lain). Susu yang mengandung laktosa (padahal dari penelitian terbaru hampir 75% orang tidak bisa menyerap laktosa) , protein dalam produk diary (casein dan gandum) yang juga bisa menyebabkan iritasi atau peradangan dalam pencernaan dan masih banyak lagi makanan yang bisa menjadi penyebabnya seperti kedelai, jagung dan telur.
2. Ketidakseimbangan ekosistem di pencernaan
Didalam pencernaan kita terdapat lebih dari 500 flora dan lebih dari 100 juta sel bakteri yang hidup dalam pencernaan atau yang dapat disebut “human microbione”. Flora di dalam pencernaan ini harus seimbang antara yang jahat dan yang baik. Saat terdapat bakteri jahat yang hidup di pencernaan atau pada saat terjadi pertumbuhan berlebihan dari jamur atau terdapat parasit atau cacing di pencernaan maka itu yang dapat menyebabkan IBS.
Pada saat anda mengkonsumsi makanan seperti roti, sereal, pasta, nasi dan makanan manis saat itulah bakteri memfermentasi gula yang terkandung didalamnya yang bisa menimbulkan gejala penuh (kembung) setelah makan. Di kedokteran fungsional disebut “postprandial bloating”. Ini merupakan gejala paling umum akibat pertumbuhan bakteri yang berlebihan disebut juga Small Intestine Overgrowth (SIBO). Selain pertumbuhan bakteri yang berlebihan SIBO juga bisa diakibatkan karena ada bakteri yang naik dari usus besar ke usus kecil (normalnya bakteri hanya hidup di usus besar namun pada keadaan tertentu bakteri dapat naik ke usus kecil). Penelitian mengenai SIBO terdapat di Jounal of The American Medical Association, yang membuktikan bahwa dengan menangani SIBO dapat menurunkan gejala IBS.
Ketidakseimbangan ekosistem pencernaan juga bisa disebabkan karena pertumbuhan jamur yang berlebihan. Pertumbuhan jamur yang berlebihan dapat diakibatkan oleh konsumsi obat yang berlebihan (seperti antibiotic, steroid, pil KB dan obat asam lambung), konsumsi makanan manis, minum alcohol atau anda penderita diabetes. Flora jenis lain seperti cacing atau parasit. Untuk itu diperlukan pemeriksaan lebih lanjut untuk memastikan penyebab IBS.
3. Pengurangan enzyme pencernaan
4. Parasit yang hidup dipencernaan
5. Defisiensi zinc atau magnesium
6. Keracunan logam berat
Dari penyebab-penyebab IBS ini maka kita perlu mencaritahu penyebab utama yang terjadi di diri kita. Penanganan yang terbaik bukan dengan satu penanganan yang dapat menyembuhkan semua gejala, namun dengan mencaritahu penyebab utamanya baru mengobatinya.
Salam sehat,
Dr Angga Arinda H
