Medicine

Pendekatan Autism Spectrum Disorder (ASD) dalam kedokteran fungsional.

500 500 biobalance

Pada Maret 2016, CDC (American Psychiatric Association) memperkirakan 1 dari 68 anak terdiagnosis dengan Autism Spectrum Disorder (ASD). Kriteria yang termasuk dalam ASD yaitu berulang-ulang melakukan kegiatan atau ketertarikan yang sama namun kurang fokus dalam kegiatan, kurang suka berinteraksi sosial dan kurang dalam berkomunikasi. Ada berbagai tingkatan dalam Austism spectrum dan berbagai penyebab autism seperti genetik, lingkungan, intolerasi terhadap makanan tertentu, intosikasi logam dan pola makan yang buruk. Jadi semua anak berbeda dalam tingkatan dan penyebabnya.
Dalam pendekatan kedokteran fungsional, kami tidak melabeli seorang anak berdasarkan gejalanya namun kami lebih fokus melihatnya ke pencetus yang menimbulkan ketidakseimbangan yang terjadi dalam tubuh anak sehingga menimbulkan Austism spectrum disorder (ASD)

6 langkah awal dalam pendekatan kedokteran fungsional untuk mengurangi gejala ASD:

  1. Mengurangi peradangan dalam tubuh. Peradangan dalam tubuh yang terus menerus dapat mempengaruhi perkembangan otak. Mencaritahu lebih dalam penyebab dari peradangan ini dapat mengurangi gejala dari autism. Penyebab peradangan tersering yaitu, hipersensitivitas/alergi terhadap makanan tertentu, ketidakseimbangan bakteri dalam pencernaan dan infeksi.
  2. Konsumsi makanan bebas gluten dan bebas dairy. Mengkonsumsi makanan yang bebas gluten dan dairy ini akan sangat banyak membantu untuk banyak alasan, salah satunya karena kandungan dari gluten dan dairy ini dapat menembus lapisan otak dan mempengaruhi sistem saraf yang akan menimbulkan gejala seperti tidak fokus, mudah marah, mudah lelah dan tampak bingung.
  3. Lebih fokus pada sistem pencernaan. Banyak penelitian menemukan bahwa terdapat hubungan antara sistem pencernaan dengan autism. Banyak anak dengan autism spectrum memiliki masalah pencernaan berupa mudah diare, susah buang air besar, kembung dan sakit perut. Dalam pendekatan kedokteran fungsional, kami akan lebih mengevaluasi tentang jumlah bakteri dan jamur di pencernaan. Penanganan dapat dilakukan dengan mengkonsumsi makanan yang kaya akan probiotik dan prebiotik. Jika dibutuhkan dapat digunakan suplementasi probiotik dan enzyme pencernaan, namun konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter jika ingin menggunakan suplementasi tambahan.
  4. Konsumsi lemak baik. Contoh makanan yang mengandung lemak baik seperti alpukat, Virgin Coconut Oil, santan segar, almond, dan telur. Lemak baik ini akan digunakan sebagai anti peradangan oleh tubuh, disamping itu lemak baik ini juga kaya akan vitamin- vitamin larut lemak yaitu A,D,E,K yang sangat berguna untuk tubuh salah satunya untuk antioksidan.
  5. Hindari makanan yang mengandung gula tambahan, pewarna tambahan dan makanan yang diproses secara berlebihan (makanan- makanan siap saji atau yang dalam kemasan). Makanan ini yang akan sangat mempengaruhi masalah perilaku dan masalah pencernaan.

Konsumsi tambahan multivitamin jika dibutuhkan. Biasanya pada anak yang termaksud dalam Autism spectrum memiliki kekurangan nutrisi, baik karena kurangnya asupan yang masuk, kurang absorpsinya atau variasi genetik yang mempengaruhi kebutuhannya.
Di Biobalance Clinic selain dengan langkah awal diatas, kami juga melakukan tes untuk melihat racun yang terdapat dalam tubuh seperti logam berat dan tes untuk melihat ketidakseimbangan dalam tubuh. Semoga dengan 6 langkah diatas, bisa menjadi awal dan mempunyai manfaat positive untuk kesehatan dan perkembangan anak anda.

Stay healthy dan happiness

Dr. Angga Arinda H

IBS, salah satu permasalahan pencernaan yang dirasakan 1 dari 6 orang

500 500 biobalance

Di dalam kedokteran fungsional pencernaan merupakan otak kedua dalam tubuh kita, banyak penyakit yang disebabkan karena pencernaan salah satunya Irritable bowel syndrome. Di Amerika lebih dari 50 juta orang atau satu dari enam orang pernah mengalami IBS. Di Indonesia sendiri Irritable Bowel Sydrome bukan salah satu diagnosa yang sering kita dengar, padahal mungkin kita pernah mengalaminya dan mungkin dari gejalanya kita sering datang ke dokter namun dokter tidak tahu bagaimana mengobatinya dan apa penyebabnya.
Irritable Bowel syndrome (IBS) merupakan penyakit yang terjadi di dalam usus besar dengan kumpulan gejala seperti perut kembung, perut terasa penuh, susah buang air besar (konstipasi), diare atau perut kram. Dengan pemeriksaan penunjang colonoscopy juga tidak ditemukan apa-apa, tampak normal, tidak ada masalah di organ, tidak ada tumor dan tidak tampak hal yang berarti. Padahal masalah utamanya adalah disfungsi dari ekosistem dalam pencernaan.
Apa penyebab IBS?
Dalam kedokteran fungsional, suatu penyakit bisa disebabkan oleh berbagai macam penyebab. Jadi apabila ada 4 orang yang sama-sama mengalami gejala IBS, penyebab tiap orang bisa berbeda-beda. IBS dapat disebabkan oleh:
1. Allergen makanan atau sensitive terhadap makanan tertentu
Yang paling utama penyebab IBS adalah sensitifitas atau alegi terhadap makanan. Ini bukan seperti alergi terhadap kacang atau seafood, tapi ini sensitifitas atau alergi yang ringan yang mungkin dari gejalanya kita menyadarinya namun jika didiamkan sebenarnya bisa menimbulkan penyakit kedepannya. Makanan yang paling sering menimbulkan alergi yaitu Gluten (Gluten adalaha protein yang terdapat di gandum, barley, rye dan oats). Makanan lain yang paling banyak menyebabkan alergi selanjutnya yaitu, product diary (seperti: susu, keju, ayam boiler dan lain-lain). Susu yang mengandung laktosa (padahal dari penelitian terbaru hampir 75% orang tidak bisa menyerap laktosa) , protein dalam produk diary (casein dan gandum) yang juga bisa menyebabkan iritasi atau peradangan dalam pencernaan dan masih banyak lagi makanan yang bisa menjadi penyebabnya seperti kedelai, jagung dan telur.

2. Ketidakseimbangan ekosistem di pencernaan
Didalam pencernaan kita terdapat lebih dari 500 flora dan lebih dari 100 juta sel bakteri yang hidup dalam pencernaan atau yang dapat disebut “human microbione”. Flora di dalam pencernaan ini harus seimbang antara yang jahat dan yang baik. Saat terdapat bakteri jahat yang hidup di pencernaan atau pada saat terjadi pertumbuhan berlebihan dari jamur atau terdapat parasit atau cacing di pencernaan maka itu yang dapat menyebabkan IBS.
Pada saat anda mengkonsumsi makanan seperti roti, sereal, pasta, nasi dan makanan manis saat itulah bakteri memfermentasi gula yang terkandung didalamnya yang bisa menimbulkan gejala penuh (kembung) setelah makan. Di kedokteran fungsional disebut “postprandial bloating”. Ini merupakan gejala paling umum akibat pertumbuhan bakteri yang berlebihan disebut juga Small Intestine Overgrowth (SIBO). Selain pertumbuhan bakteri yang berlebihan SIBO juga bisa diakibatkan karena ada bakteri yang naik dari usus besar ke usus kecil (normalnya bakteri hanya hidup di usus besar namun pada keadaan tertentu bakteri dapat naik ke usus kecil). Penelitian mengenai SIBO terdapat di Jounal of The American Medical Association, yang membuktikan bahwa dengan menangani SIBO dapat menurunkan gejala IBS.

Ketidakseimbangan ekosistem pencernaan juga bisa disebabkan karena pertumbuhan jamur yang berlebihan. Pertumbuhan jamur yang berlebihan dapat diakibatkan oleh konsumsi obat yang berlebihan (seperti antibiotic, steroid, pil KB dan obat asam lambung), konsumsi makanan manis, minum alcohol atau anda penderita diabetes. Flora jenis lain seperti cacing atau parasit. Untuk itu diperlukan pemeriksaan lebih lanjut untuk memastikan penyebab IBS.

3. Pengurangan enzyme pencernaan
4. Parasit yang hidup dipencernaan
5. Defisiensi zinc atau magnesium
6. Keracunan logam berat
Dari penyebab-penyebab IBS ini maka kita perlu mencaritahu penyebab utama yang terjadi di diri kita. Penanganan yang terbaik bukan dengan satu penanganan yang dapat menyembuhkan semua gejala, namun dengan mencaritahu penyebab utamanya baru mengobatinya.

Salam sehat,
Dr Angga Arinda H

Functional Medicine/ Kedokteran fungsional

705 903 biobalance

Functional medicine atau yang dalam bahasa Indonesia berarti kedokteran fungsional merupakan suatu pendekatan kedokteran yang menitikberatkan mencari penyebab atau akar masalah dari suatu penyakit dengan melihat secara keseluruhan yang terjadi dalam tubuh manusia (system integrasi). Dengan kata lain kedokteran fungsional merubah pengobatan konvensional (yang hanya mengobati setelah timbulnya penyakit) dengan pendekatan tubuh pasien sebagai sumber utamanya. Seorang dokter kedokteran fungsional akan bekerja sama dengan pasien dimulai dari mendengarkan seluruh riwayat kesehatan pasien, melihat pasien secara luas baik dari genetik, lingkungan dan kebiasaan hidup yang dapat mempengaruhi kesehatan jangka panjang pasien atau yang dapat menyebabkan penyakit kronis. Itulah mengapa kedokteran fungsional disebut-sebut sebagai perubahan pendekatan kesehatan di abad ke 21 ini. Kedokteran fungsional digambarkan seperti pohon, kami para dokter kedokteran fungsional melihat tubuh manusia secara keseluruhan bukan hanya melihat dari timbulnya gejala penyakit tapi melihat juga dari penyebab (akar) dari peradangan yang terjadi di dalam tubuh seperti menanyakan makanan yang dikonsumsi, minuman yang dikonsumsi, infeksi di pencernaan, udara yang dihirup, pencemaran yang terdapat di lingkungan, amalgam pada gigi dan sebagainya. Selain mendengarkan riwayat kesehatan pasien, kami juga akan melakukan pemeriksaan dengan kedokteran fungsioan tes laboratorium untuk mencari berbagai macam penyebabnya seperti alergi makanan, infeksi di pencernaan, ketidakseimbangan hormone, pencemaran lingkungan, penanda genetic, leaky gut dan lain-lain.

Kenapa kedokteran fungsional berbeda?
• Kedokteran fungsional mencari penyebab, pencegahan dan pengobatan untuk penyakit kronis. Hal yang paling mendasar dalam pendekatan kedokteran fungsional adalah:
1. Patient center care. Fokus kedokteran fungsional melakukan pendekatan dengan pasien sebagai utamanya, bukan hanya melihat adanya suatu gejala penyakit. Dengan mendengarkan riwayat kesehatan pasien, seorang dokter kedokteran fungsional dapat membawa pasien melihat bagaimana proses timbulnya gejala penyakit dari tubuh pasien. Dengan demikian pengobatannya pun bersifat individual.
2. Integrative science basedhealthcare approach. Seorang dokter kedokteran fungsional akan melihat secara detail hubungan yang kompleks antara riwayat kesehatan pasien, fisiologi, psikologis dan gaya hidup yang bisa menimbulkan suatu penyakit. Setiap pasien dianggap memiliki kekhas-an genetik, yang akan bersama-sama dengan factor internal (pikiran, tubuh dan jiwa) dan factor eksternal (lingkungan fisik dan social)yang akan memperngaruhi semua fungsi tubuh.
3. Integrating best medical practice. Kedokteran fungsional berhubungan dengan penanganan medis tradisional barat atau biasa disebut alternative menciptakan pencegahan penyakit dengan nutrisi, diet dan olahraga, serta menggunakan tes laboratorium terkini dan tes penunjang lainnya dan memberikan tambahan nutrisi, diet, program detoks dan pengendalian stress.